SEMINAR DALAM JARINGAN

Membangun Kesejahteraan Ekonomi Guru Honorer Melalui Program PPPK

Pada hari sabtu, 22 Mei 2021 Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (HIMIPS) menyelenggarakan seminar dalam jaringan atau lebih dikenal dengan sebutan Webinar. Agenda tersebut mengusung tema “Membangun Kesejahteraan Ekonomi Honorer Guru melalui Program PPPK”. Penyelenggaraan Webinar ini merupakan bentuk komitmen HIMIPS Universitas Bale Bandung yang tergabung kedalam Aliansi Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Indonesia (ALMAPIPSI) guna mengisi aktifitas dalam situasi pendemi.

Narasumber Seminar dalam Jaringan

Bertepatan dengan hari jadi UNIBBA ke-13, penyelenggaraan acara ini disambut baik oleh seluruh Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNIBBA. Dekan FKIP Dr. Mumun Mulyana, M.Pd beserta Wakil Dekan bidang Akademik Asep Yanyan, M.Pd memberikan apresiasi dengan menghadiri agenda tersebut. Selain itu dukungan secara penuh juga diberikan oleh ketua program studi Nana Supriatna, SE, M.Pd dan sekertaris program studi Sari Sri Handani, M.Pd. Kehadiran perwakilan ALMAPIPSI Rizal Hisyam Affandi dari UNIRA Malang, menambah ikatan kekeluargaan antar Universitas dengan bidang ilmu yang sama.

Pembukaan Acara oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Adapun tujuan penyelenggaraan webinar tersebut disamping menambah pengetahuan mahasiswa mengenai kebijakan yang baru juga menambah motivasi untuk senantiasa bertanggung jawab dalam mengemban amanah sebagai tenaga pendidik. Sehingga pada praktiknya akan muncul kecerdasan bersikap dalam menghadapi tantangan dan kemajuan zaman. Pada akhirnya sikap tanggung jawab yang diaplikasikan oleh seorang guru akan berimplikasi terhadap meningkatnya perhatian pemerintah mengenai upaya memberikan kesejahteraan. Sebab tidak dapat dipungkiri jika kesejahteraan akan memberikan dampak yang positif terhadap kinerja guru disekolah.

Referensi utama dalam pembahasan materi webinar adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara pada Pasal 1 angka 1 yang menyatakan “Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawaai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah”. PP Nomor 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja dan Peraturan Badan Kepegawaian Negara tentang Petunjuk Teknis Pengadaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja. Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) adalah pengelolaan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja untuk menghasilkan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang professional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dr. Hj. Rini Ayu Susanti, M.Pd dosen di PIPS UNIBBA sebagai pemateri pertama berpendapat “Bahwa membangun kesejahteraan ekonomi bagi guru honorer dapat dilakukan melalui PPPK ini,”. Beliau menyampaikan materi secara gamblang dalam salah satu sesi acara, beliau berkenan membagi ilmunya di tengah kesibukan sebagai Anggota Komisi D dari Fraksi Partai Demokrat periode 2019-2024. Sebagai pemateri kedua, Dr. Sukanda Permana, M.Pd dosen di PIPS UNIBBA juga menjabat sebagai Kepala Sub bagian Umum dan kepegawaian Dinas Pendidikan Kota Bandung menyampaikan bahwa hendaknya mahasiswa senantiasa bertanggung jawab jika suatu hari menjadi ASN (PPPK atau PNS). Beliau menyampaikan “tanggung jawab dari hal kecil, bertanggung jawab juga perihal tepat waktu,”.

Acara ditutup dengan diskusi bersama tamu undangan Toto Ruhiyat, S.Ag sebagai Praktisi guru honorer, yang membangkitkan antusias Mahasiswa di webinar saat itu. Membahas seputar fakta dibalik kehidupan guru honorer yang seringkali dianggap kurang mempunyai kemapanan dalam urusan pernikahan, dipicu oleh beberapa pertanyaan seputar guru honorer yang tentunya juga sudah dialami oleh Alumni Geografi Rizal Akbar Maulana, S.Pd (UNIBBA lulusan 2019) yang saat itu menjadi penanya aktif di webinar, sekaligus tanggapan dari moderator terhadap beberapa kasus yang menimpa guru honorer wanita yang lebih dianggap cocok sebagai ‘Menantu idaman’ dibanding guru honorer pria. Sambil tertawa, Pak Toto Ruhiyat menjawab, “itu fakta, karena pengalaman saya juga dulu dengan rekan-rekan gitu. Malah ada teman saya di daerah Cimaung dan di Banjaran juga segan untuk melamar pasangannya, karena memang jika melihat finansial enggak terlalu banyak. Kadang juga anggapannya lebih mending kerja di pabrik kalau soal gaji. Tapi yahhh kita sebagai Mahasiswa yang sedang menempuh kuliah di keguruan harus bisa inilah… niatkan yang baik, insyaalloh kedepannya juga baik.” tutup diskusi saat itu.

Pihak panitia juga menambahkan persembahan puisi berjudul “Untuk Pendidik yang nantinya Mendidik” di akhir acara untuk menambah semangat Mahasiswa yang sekarang masih menempuh pendidikan, maupun yang sudah terlebih dulu aktif mengajar bahkan di tengah situasi pandemi. Berikut adalah teks puisi sebagai penutup acara:

 

Untuk Pendidik yang Nantinya Mendidik

Menyongsong masa, bertahun lamanya,,,
Apalah ilmu yang diajarkan jika tidak dibuktikan dengan amalan
Bungkuslah rapih untuk menjadi kado indah dimasa depan
Ekonomi, suatu permasalahan memang. Tetapi, sekaligus amunisi untuk dapat dinikmati
Jangan hanya menuntut hak, kewajibannya pun harus terjabar dengan pembuktian
Tapi tetap, kalau kewajiban tuntas, masalah hak sudah barang tentu berhak didapat
Bicara soal tanggung jawab, tak lain dan tak bukan ialah suatu kodrat. HARUS. Dan tak bisa dielak.
Ketika kita berani masuk dalam ikat, juga giat dalam menjabat.
Heiii, para terdidik yang nantinya mendidik
Disebut Guru oleh instansi terkait
Ataupun orang yang memberi sepercik ajar untuk dipetik
Sekolahnya, apapun yang kau sebut disetiap moment berarti
Bangunan kokoh, hanyalah simbol zaman yang menjadikannya sebuah organisasi
Entahlah,
Direncanakan atau tidak, kita telah memilih berkontribusi
Walaupun memang, keadilan di negeri ini belum sepenuhnya bisa dinikmati
Korupsi merajalela, menggerayangi tak pandang siapa yang ia cabuli
Merampas hak tanpa pernah ganti rugi kembali
Seorang Guru peduli?
Kurasa ia mengambil makna dari apa yang terjadi
Bibit-bibit pencuri haruslah diminimalisir sedari dini
Agar kelak, dapat menjadi pemimpin-pemimpin yang murah hati dan tulus pada negeri
Siapa?
Pahlawan berproses yang sekarang sedang berjuang dengan skripsi barangkali
Yang juga tengah sibuk memutar strategi bagaimana pembelajaran daring bisa menarik hati
Dirumah-rumah yang mengajarkan anak-anaknya mengerti
Dan yang sekarang juga lagi berjuang ditangga-tangga semester mewujudkan mimpi
Untuk mereka. khusus.
“Heiii, nikahnya nanti. Jodohmu baru OTW belum sampai sini”
Kata Sang Guru pada mereka yang masih dijenjang seleksi memilih.
Ada juga dijalanan yang meminta kepastian, mempertanyakan “mana Hak kami?”
Guru itu lebih. Lebih dari dibayar dengan selembaran warna merah sebagai bukti
Honor-honornya diamplop sana-sini dengan tulisan “Terima Kasih”
Dan nanti dikembalikan lagi untuk anak-anak kami dengan segala bidang ahli
Tapi kalau cedera penitip bilang “Saya tuntut kembali”
Resiko guru seringlah begitu
Terlebih dengan gaji pokok yang juga tidak selalu dapat dimengerti
Jauh dicari-cari
Sampai akhirnya mungkin kembali lagi
Pada sebuah titik sadar
Aturan dibolak-balik tetap saja AMBYARRR
Pena harus tetap tegas menandatangani setiap buku-buku tugas
Yang akan mereka ingat dalam benaknya
Kami pernah mendapat kasih sayang orangtua disekolah
Guru-guru kami yang sukarela mengajar
Walaupun ketika sukses, background Guru jarang tergambar
Tanpa tanda jasa bukan?
Jangan berkecil Hati
Tugas kita bukan hanya ingin diapresiasi
Teruslah mengajar,
Karena penghargaan yang sejati adalah menghargai setiap anugerah yang Tuhan beri
Dari setiap helaan nafas sampai detik ini
Prosesmu…
Kesulitanmu…
Niat baikmu…
Dengan segala tek tek bengeknya itu
Nanti Tuhan bayarrr
Dengan senyuman orang-orang terkasih
Disambut didepan pintu surga
Dengan predikat “Manusia berguna”
Yang tak pernah mengeluh dalam pengembaraannya di dunia